Sabtu, 14 Januari 2012

Model Reciprocal Teaching Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa



A.   Pembelajaran Matematika
Pengertian belajar menurut M. Sobry Sutikno (Faturahman dan Sutikno, 2007) adalah ”suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.[1] Sedangkan belajar menurut Chaplin (Syah, 2004) adalah “perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman”.[2] Perubahan tingkah laku tersebut menurut Oemar Hamalik (2005) meliputi beberapa aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap dll.[3] Secara umum belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri individu dengan lingkungannya. Yang dimaksud interaksi disini adalah: [4]
a.       Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar.
b.      Dilakukan secara aktif dengan segenap panca indra ikut berperan.
Selanjutnya pembelajaran menurut Gagne, Briggs dan Wager adalah ”Serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”.[5] Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pembelajaran adalah ”suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”.[6]
Suherman (2001) mengemukakan bahwa “proses pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar proses belajar tumbuh dan berkembang secara optimal”.[7]
Dalam pembelajaran terdapat hubungan antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Pola hubungan tersebut termasuk pola hubungan komunikasi pembelajaran multiarah. Seperti yang digambarkan oleh Muhibbin Syah (2004) sebagai berikut:[8]










Gambar 1
Komunikasi Multiarah Dalam Proses Belajar-Mengajar

Pada komunikasi pembelajaran multiarah siswa lebih berperan aktif dalam pembelajaran seperti membaca, menulis, menyusun rangkuman, membuat kesimpulan, menjelaskan suatu wacana, berdiskusi, mengemukakan pendapat, bertanya, menanggapi pendapat lain, dan lain-lain. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan ruang dan kesempatan bagi siswa agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Suherman (2001) bahwa:
Pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai komunikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu pengetahuan. Dalam komunikasi banyak arah dalam pembelajaran, peran-peran tersebut bisa berubah, yaitu antara guru dengan siswa dan sebaliknya, serta antara siswa dengan siswa.[9]

Dengan menyadari pola hubungan tersebut memungkinkan keterlibatan mental siswa yang optimal dalam merealisasikan pengalaman. Selanjutnya, agar hubungan antar siswa dapat memberi pengaruh yang positif dan konstruktif, mereka harus mampu mengusahakan terjadinya suasana saling menghargai, memiliki, menerima, membantu, dan saling memperhatikan antara satu dengan yang lain. Dijelaskan dalam Wuryani (2006) “tugas guru adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk mengajar dan belajar. Suasana diciptakan oleh guru dan siswa tetapi guru mempunyai tanggung jawab dan mengorganisasi pekerjaan siswa, mengatur waktu seefisien mungkin dan mengatur jalannya interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa”.[10] Dengan kata lain, guru harus mampu mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi antarsiswa yang meliputi bagaimana tujuan disusun dan perbedaan-perbedaan pendapat diatur.
Dari pengertian-pengertian pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berpusat pada kegiatan siswa belajar dan bukan berpusat pada kegiatan guru mengajar. Sedangkan matematika menurut Lerner (1988) adalah bahwa matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.[11] Oleh karena itu pada hakikatnya pembelajaran matematika adalah ”proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang (sipelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika, dan proses tersebut berpusat pada guru mengajar matematika”.[12]  
Kegiatan pembelajaran matematika sesungguhnya merupakan interaksi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa untuk mengklarifikasi pemikiran dan tindakan secara logis, kreatif, dan sistematis selain itu juga bahwa pembelajaran matematika  harus memberikan peluang kepada siswa untuk berusaha dan mencari pengalaman tentang matematika.
B.   Kemampuan Komunikasi Matematik
1.      Pengertian Komunikasi Matematik
Istilah “komunikasi” merupakan terjemahan dari bahasa Inggris communication yang dikembangkan di Amerika Serikat. Komunikasi menurut bahasa (etimologi) berasal dari bahasa latin, salah satunya yaitu communicare yang berarti berpartisipasi ataupun memberitahukan. Pengertian komunikasi secara etimologi ini memberi pengertian bahwa komunikasi dilakukan hendaknya dengan lambang-lambang atau bahasa yang mempunyai kesamaan arti antara orang yang memberi pesan dengan orang yang menerima pesan. Sedangkan menurut istilah (terminologi) seperti yang diungkapkan oleh Berelson dan Steiner (1964) “komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka dan lain-lain”.[13]
      Komunikasi adalah suatu proses, bukan hal yang statis. Implikasi dari hal ini adalah bahwa komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok. Proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:
 





Gambar 2
Proses Komunikasi

Pengirim pesan melakukan encode, yaitu memformulasikan pesan yang akan disampaikannya dalam bentuk kode yang dapat ditafsirkan oleh penerima pesan, kemudian penerima pesan menafsirkan men-decode code yang disampaikan oleh pengirim pesan. Berhasil tidaknya komunikasi tergantung dari ketiga komponen tersebut.[14]
Untuk mengembangkan kemampuan komunikasinya, orang-orang dapat menyampaikan informasi dengan bahasa matematika karena matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan.[15]  Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) disebutkan pentingnya kemampuan komunikasi matematik. Hal ini tampak antara lain pada:
  1. Fungsi dan tujuan, yang menyebutkan bahwa :
1). Masalah ataupun informasi juga sering disampaikan orang dengan bahasa matematika, misalnya menyajikan persoalan atau masalah dalam model matematika;
2). Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih praktis sistematis dan efisien.
3). Matematika dapat digunakan sebagai alat informasi atau ide misalnya melalui pembicaraan lisan, catatan (tulisan), grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan.
  1. Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK) disebutkan bahwa salah satu kompetensinya adalah menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
  2. Pada kompetensi umum bahan kajian matematika disebutkan bahwa antara lain dengan belajar matematika siswa memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, grafik untuk memperjelas keadaan atau masalah.[16]
Hal ini mengindikasikan komunikasi matematik menjadi sangat penting untuk ditumbuh kembangkan dalam kegiatan pembelajaran matematika di sekolah.
Seperti yang tercantum dalam Depdiknas Jakarta (2003) yang menyatakan bahwa indikator dari kemahiran matematika untuk kelas VII adalah:[17]
1)      Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis dengan simbol dan diagram.
2)      Menjelaskan langkah atau memberikan alasan hasil penyelesaian soal.
3)      Menerapkan konsep secara algoritma.
4)      Melakukan kegiatan simulasi dan peragaan untuk media pemecahan masalah.
5)      Menentukan persyaratan yang diperlukan dalam pemecahan masalah.
6)      Memeriksa kesesuaian hasil penyelesaian yang diharapkan.
7)      Memilih pendekatan atau strategi yang cocok untuk menyelesaikan masalah.
8)      Menafsirkan jawaban yang diperoleh.
9)      menunjukkan rasa ingin tahu (antusias) dan perhatian atau minat dalam belajar matematika.

Komunikasi matematik juga berperan penting membantu siswa dalam memahami matematika maupun untuk mengungkap keberhasilan belajar siswa. Seperti dikemukakan oleh Lindquist (1996) bahwa “jika kita sepakat bahwa matematika itu merupakan suatu bahasa dan bahasa tersebut sebagai bahasa terbaik dalam komunitasnya, maka mudah difahami bahwa komunikasi merupakan esensi dari mengajar, belajar, dan meng-asses matematika”.[18] Pada saat pembelajaran matematika, komunikasi berperan efektif dalam mengembangkan pengetahuan siswa. Dengan komunikasi yang baik siswa dapat merepresentasikan pengetahuannya sehingga bila terjadi salah konsep dapat segera diantisipasi dan transfer ilmu pengetahuan terhadap siswa lainnya dapat dilaksanakan.
Baroody (Gusni, 2006) menyebutkan sedikitnya ada dua alasan penting, mengapa komunikasi dalam pembelajaran matematika perlu ditumbuhkembangkan di kalangan siswa, yaitu matematika tidak hanya sekedar alat bantu berfikir, alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah atau mengambil kesimpulan tetapi matematika juga sebagai aktivitas sosial dalam pembelajaran matematika, matematika sebagai wahana interaksi antar siswa dan juga komunikasi antara guru dan siswa.[19]
Menurut NCTM (2000), komunikasi seharusnya difokuskan pada tugas-tugas matematika yang bermakna. Guru seharusnya mengenalkan tugas-tugas seperti:[20]
a.   Tugas yang berhubungan dengan pentingnya ide-ide matematik.
b.      Tugas yang dapat diselesaikan dengan banyak metode.
c.       Tugas yang memenuhi banyak contoh.
d.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengartikan, menyelidiki, dan melakukan konjektur.
Terdapat beberapa kemahiran dalam bahasa matematik, diantaranya:[21]
1)      Kemahiran membaca.
2)      Kemahiran menyusun simbol.
3)      Kemahiran membaca jadwal, graf dan rajah.
4)      Kemahiran mendapatkan ide utama.
5)      Kemahiran menggunakan perkataan matematik.
6)      Kemahiran melihat dan memahami simbol.
7)      Kemahiran membuat kaitan antara objek, idea, perkataan dan simbol.
8)      Kemahiran mencari makna.

Sumarmo (Muin, 2006) mengatakan bahwa kemampuan komunikasi matematik merupakan kemampuan yang dapat menyertakan dan memuat berbagai kesempatan untuk berkomunikasi dalam bentuk: [22]
1)      Merefleksikan benda-benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide-ide matematika;
2)      Membuat model situasi atau persoalan menggunakan metode lisan, tulisan, konkrit, grafik dan aljabar;
3)      Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika;
4)      Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematiaka;
5)      Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis;
6)      Membuat konjektur, menyusun argument, merumuskan definisi dan generalisasi;
7)      Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.
Selanjutnya menurut NCTM (1989) kurikulum standar matematika untuk kelas 5-8 hendaknya meliputi kesempatan untuk berkomunikasi sehingga siswa dapat: [23]
1)  Memodelkan situasi-situasi dengan lisan, tulisan, kongkrit, gambar, grafik dan metode-metode aljabar;
2)  Memikirkan dan menjelaskan pemikiran mereka sendiri tentang ide-ide dan situasi-situasi matematik;
3)   Mengembangkan pemahaman umum terhadap ide-ide matematika termasuk peran  definisi-definisi;
4)  Menggunakan keterampilan membaca, mendengar, menulis, dan melihat untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide matematika,
5)   Mendiskusikan ide-ide matematik dan membuat dugaan-dugaan dan alasan-alasan yang meyakinkan;
6)   Menghargai nilai notasi matematik dan perannya dalam perkembangan ide-ide matematik.
Berdasarkan uraian di atas, maka komunikasi dalam matematika atau komunikasi matematik merupakan suatu aktivitas baik fisik maupun mental dalam mendengarkan, membaca, menulis, berbicara, merefleksikan dan mendemonstrasikan serta menggunakan bahasa dan simbol untuk mengkomunikasikan gagasan matematika.



2.      Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Komunikasi
      Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi matematik, antara lain:[24]
a.       Pengetahuan prasyarat (Prior Knowledge)
Pengetahuan prasyarat merupakan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebagai akibat proses belajar sebelumnya. Hasil belajar siswa tentu saja bervariasi sesuai dengan kemampuan siswa itu sendiri. Jenis kemampuan yang dimiliki siswa sangat menentukan hasil pembelajaran selanjutnya.
b.      Kemampuan membaca, diskusi dan menulis
Dalam komunikasi matematik, kemampuan membaca, diskusi, dan menulis dapat membantu siswa memperjelas pemikiran dan dapat mempertajam pemahaman.
c.       Pemahaman matematik
Pemahaman matematik merupakan kemamapuan siswa untuk menjelaskan suatu situasi dan suatu tindakan matematik.
Pada penelitian ini, peneliti membagi kemampuan komunikasi matematik menjadi tiga berdasarkan klasifikasi yang dikemukakan oleh Gusni dalam Algoritma dan Jurnal matematika, yaitu:[25]
a.       Written Text, yaitu memberikan jawaban dengan menggunakan bahasa sendiri, membuat model situasi atau persoalan menggunakan lisan, tulisan, konkrit, grafik dan aljabar, menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari, mendengarkan, mendiskusikan, dan menulis tentang matematika, membuat konjektur, menyusun argumen dan generalisasi.
b.      Drawing, yaitu merefleksikan benda-benda nyata, gambar dan diagram ke dalam ide-ide matematika.
c.          Mathematical Expression, yaitu mengekspresikan konsep matematika dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.
C.   Model Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
1.      Karakteristik Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Pembelajaran atau pengajaran menurut Tardif (Syah, 2004) adalah “sebuah proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar”.[26] Sedangkan pengajaran menurut Majid (2007) diartikan sebagai “suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar”.[27] Dengan kata lain bahwa pengajaran merupakan suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi para peserta didik.
Menurut Degeng (Hamzah, 2006) pengajaran adalah upaya membelajarkan siswa.[28] Pengertian ini secara implisit memberikan penjelasan bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegaitan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.
Menurut Claire Weinstein & Ricard Meyer (Nur, 2000) “pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, begaimana berfikir, bagaimana memotivasi diri sendiri”.[29] Ini berarti yang menjadi pusat perhatian adalah siswa, siswa dimotivasi untuk aktif dan belajar mandiri dalam memahami suatu konsep. Dalam hal ini peranan guru adalah sebagai fasilitator dan motivator yang mengarahkan siswa untuk membangun pengetahuan matematika secara mandiri.
Ada banyak model pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk aktif belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan komunikasi matematiknya, salah satunya adalah model pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching). Menurut Palincsar dan Brown seperti yang dikutip oleh Slavin (dalam Ibrahim, 2007) bahwa strategi pembelajaran terbalik adalah pendekatan konstruktivis yang didasarkan pada prinsip-prinsip membuat pertanyaan, mengajarakan keterampilan kognitif melalui pengajaran dan pemodelan oleh guru untuk meningkatkan keterampilan membaca pada siswa berkemampuan rendah.[30]
Menurut Ibrahim (2007) pembelajaran terbalik adalah strategi belajar melalui kegiatan mengajarkan teman. Pada strategi ini siswa berperan sebagai guru menggantikan peran guru untuk mengajarkan teman-temannya. Sementara itu guru lebih berperan sebagai model yang menjadi contoh, fasilitator yang memberi kemudahan dan pembimbing yang melakukan scaffolding. Scaffolding adalah bimbingan yang diberikan oleh orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang atau belum tahu.[31] Sedangkan menurut Nur dan Wikandari  (dalam Trianto, 2007), pembelajaran terbalik adalah pendekatan konstruktivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan/pengajuan pertanyaan.[32]
Pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) merupakan prosedur pengajaran yang digunakan brown dan Palinscar untuk mengembangkan pemantauan kognitif; pelajar diminta secara bergantian memimpin kelompok belajar dalam menggunakan strategi untuk memahami dan mengingat suatu bacaan. Cara pengajaran ini menuntut sekelompok kecil pelajar, sering kali dengan pimpinan orang dewasa, secara aktif mendiskusikan bacaan pendek dengan tujuan membuat ringkasan, mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman, mengeluarkan pertanyaan untuk memperjelas gagasan atau kata-kata yang sulit atau membingungkan, dan memperkirakan hal yang akan terajdi selanjutnya.[33]
Ann Brown (1982) dan Anne Marie Palinscar (1984) mengemukakan bahwa dengan pengajaran terbalik guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting dengan menciptakan pengalaman belajar, melalui pemodelan prilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan dan suatu sistem scaffolding.[34]
Karakteristik dari pembelajaran terbalik menurut Palinscar dan Brown (2008) adalah:[35]
Reciprocal teaching refers to an instructional activity that takes place in the form of a dialogue between teachers and students regarding segments of text. The dialogue is structured by the use of four strategies: summarizing, question generating, clarifying, and predicting. The teacher and students take turns assuming the role of teacher in leading this dialogue.

Bila diterjemahkan berarti bahwa karakteristik dari pembelajaran terbalik adalah (1) Dialog antar siswa dan guru, dimana masing-masing mendapat giliran untuk memimpin diskusi, (2) “Reciprocal” artinya suatu interaksi dimana seseorang bertindak untuk merespon yang lain, (3) Dialog yang terstruktur dengan menggunakan empat strategi, yaitu: merangkum, membuat pertanyaan dan jawaban, mengklarifikasi (menjelaskan kembali), dan memprediksi. Masing-masing strategi tersebut dapat membantu siswa membangun pemahaman terhadap apa yang sedang dipelajarinya.
Pembelajaran terbalik mengutamakan peran aktif siswa dalam pembelajaran untuk membangun pemahamannya dan mengembangkan kemampuan komunikasi matematiknya secara mandiri. Prinsip tersebut sejalan dengan prinsip dasar konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi (bentukan) dari kita yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarainya.[36]
Dengan demikian, proses pembelajaran merupakan suatu proses aktif siswa yang sedang belajar untuk membangun pengetahuannya sendiri, sedangkan guru berperan menyediakan suasana/kondisi belajar yang mendukung proses konstruksi pengetahuan pada diri siswa. Konstruktivis Cobb (Palinscar & Brown, 2008) mengemukakan bahwa konstruktivisme berfokus pada proses dimana siswa secara individu/mandiri aktif mengkonstruksi realitas matematika mereka sendiri.[37]
Melalui pengajaran terbalik siswa diajarkan empat strategi pamahaman pengaturan diri spesifik yaitu perangkuman, pengajuan pertanyaan, pengklarifikasian (menjelaskan kembali) dan prediksi.[38] Adapun tujuan dari setiap strategi-strategi yang dipilih adalah sebagai berikut:[39]
a.       Membuat rangkuman
Strategi merangkum ini bertujuan untuk menentukan intisari dari teks bacaan, memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengintegrasikan informasi yang paling penting dalam teks.
b.      Membuat pertanyaan dan jawaban
Strategi bertanya ini digunakan untuk memonitor dan mengevalusi sejauhmana pemahaman pembaca terhadap bahan bacaan. Pembaca dalam hal ini siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada dirinya sendiri atau dalam bentuk self-test untuk memastikan bahwa mereka dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka dengan baik, teknik ini seperti sebuah proses metakognitif.
c.       Memprediksi
Pada tahap ini pembaca diajak untuk melibatkan pengetahuan yang sudah diperolehnya dahulu untuk digabungkan dengan informasi yang diperoleh dari teks yang dibaca untuk kemudian digunakan dalam mengimajinasikan kemungkinan yang akan terjadi berdasar atas gabungan informasi yang sudah dimilikinya. Setidaknya siswa diharapkan dapat membuat dugaan tentang topik dari paragrap selanjutnya.
d.      Menjelaskan kembali
Strategi menjelaskan kembali merupakan kegiatan yang penting terutama ketika belajar dengan siswa yang memiliki sejarah kesulitan yang berbeda. Strategi ini memberikan penekanan kepada siswa untuk menjadi guru dihadapan teman-temannya (siswa guru).
Singkatnya, setiap strategi yang dipilih adalah sebagai sarana untuk membantu siswa dalam membangun makna dari teks juga sebagai alat pemantauan mereka membaca untuk memastikan bahwa mereka sebenarnya memahami apa yang dibaca. Masing-masing dari strategi pembelajaran terbalik ini akan membantu siswa membantu membangun pengertian terhadap materi yang sedang mereka pelajari secara mandiri.
Selanjutnya menurut Mohamad Nur (2000) untuk mempelajari strategi-strategi ini, guru dan siswa membaca bacaan yang ditugaskan dalam kelompok-kelompok kecil, dan guru memodelkan empat keterampilan tersebut-merangkum bacaan tersebut, mengajukan satu atau dua pertanyaan, mengklarifikasi poin-poin yang sulit dan berat, dan meramalkan apa yang akan ditulis pada bagian tulisan berikutnya. Pada saat pelajaran berjalan, situasinya terbalik, yaitu siswa mengambil giliran melaksanakan peran guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi untuk kelompok tersebut. Sementara salah seorang siswa berperan sebagai guru, guru memberikan dukungan, umpan balik, dan semangat ketika siswa-siswa belajar strategi-strategi tersebut dan membantu mereka saling mengajar satu sama lain.[40]
Salah satu cara yang dapat ditempuh guru untuk mengoptimalkan model pembelajaran terbalik khususnya pada kelas besar dengan mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Suasana belajar dalam kelompok dapat membantu siswa untuk saling memberikan umpan balik diantara anggota kelompok. Selain itu, belajar berkelompok merupakan aspek penting dalam proses mengkonstruksi pengetahuan karena dapat membuka peluang untuk terjadinya tukar pendapat, mempertahankan argumentasi, negosiasi antar siswa atau kelompok, sehingga memancing siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Seperti menurut Wingkel (1999) bahwa keuntungan dari bekerja atau belajar dalam kelompok adalah:[41]
  1. Mengolah materi pelajaran secara lebih mendalam dan menerapkan hasil belajar, yang telah diperoleh dengan bekerja atau belajar secara individual pada problem atau soal yang baru.
  2. Memenuhi kebutuhan siswa untuk merasa senang dalam belajar dan termotivasi dalam belajar.
  3. Memperoleh kemampuan untuk bekerjasama (social skills).
Oleh karena itu, dalam model pembelajaran terbalik siswa melakukan empat strategi penting yaitu merangkum, membuat pertanyaan dan jawaban, memprediksikan dan menjelaskan kembali. Peran guru dalam pembelajaran ini lebih sebagai motivator, fasilitator dan moderator bagi siswa. Untuk mengoptimalkan peran tersebut guru dapat menerapkan pendekatan scaffolding dalam pembelajaran. Scaffolding berarti pemberian sejumlah bantuan kepada siswa pada awal belajar dan mengurangi bantuan tersebut serta membiarkan siswa untuk mengambil alih tanggung jawab sendiri pada saat mereka dianggap mampu.  

2.      Tahapan Kegiatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)
Pada awal penerapan Pengajaran Terbalik guru memberitahukan akan memperkenalkan suatu pendekatan/strategi belajar, menjelaskan tujuan, manfaat dan prosedurnya. Menurut Nur dan Wikandari (dalam Trianto, 2007) dalam mengawali pemodelan dilakukan dengan cara membaca satu paragraf suatu bacaan. Kemudian menjelaskan dan mengajarkan bahwa pada saat atau selesai membaca terdapat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan yaitu:[42]
a.          Memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang dapat diajukan dari apa yang telah dibaca dan memastikan bisa menjawabnya.
b.      Membuat ikhtisar/rangkuman tentang informasi terpenting dari wacana.
c.          Memprediksi/meramalkan apa yang mungkin akan dibahas selanjutnya; dan
d.      Mencatat apabila ada hal-hal yang kurang jelas atau tidak masuk akal dari suatu bagian, selanjutnya memeriksa apakah kita bisa berhasil membuat hal-hal itu masuk akal.
Setelah siswa memahami keterampilan-keterampilan diatas, guru akan menunjuk seorang siswa untuk menggantikan perannya dalam kelompok tersebut. Mula-mula ditunjuk siswa yang memiliki kemampuan memimpin diskusi, selanjutnya secara bergilir setiap siswa merasakan/melakukan peran sebagai guru.
Langkah-langkah pembelajaran terbalik menurut Palinscar (1986) adalah sebagai berikut:[43]
a.       Pada tahapan awal pembelajaran, guru bertanggung jawab untuk memimpin tanya jawab dan melaksanakan keempat strategi pembelajaran terbalik yaitu merangkum, menyusun pertanyaan, menjelaskan kembali, dan memprediksi.
b.      Guru memperagakan bagaimana cara merangkum, menyusun pertanyaan, menjelaskan kembali, dan memprediksi setelah selesai membaca.
c.       Selama membimbing siswa melakukan latihan menggunakan strategi pembelajaran terbalik, guru membantu siswa dalam menyelesaikan apa yang diminta dari tugas yang diberikan berdasarkan tingkat kepandaian siswa.
d.      Selanjutnya, siswa belajar untuk memimpin tanya jawab dengan atau tanpa adanya guru.
e.       Guru bertindak sebagai fasilitator dengan memberikan penilaian berkenaan dengan penampilan siswa dan mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam tanya jawab ke tingkat yang lebih tinggi.
Adapun tahapan-tahapan pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) dalam penelitian ini adalah:
1)      Tahap Pertama
Guru mempersiapkan bahan ajar (LKS) yang akan dipergunakan pada pertemuan pertama dan berikutnya. LKS tersebut memuat tugas-tugas menyimpulkan (merangkum), menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, dan memprediksi suatu permasalahan. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelaompok-kelompok kecil sekitar 6-7 orang siswa.
2)      Tahap Kedua
a.       Guru membagikan LKS yang akan dipergunakan pada pertemuan tersebut, kemudian siswa membaca bahan ajar lain (buku paket) yang mereka miliki sebagai penunjang untuk mengerjakan LKS.
b.      Selesai membaca, siswa ditugaskan mengerjakan LKS dengan cara berdiskusi dengan teman sekelompoknya.
c.       Guru memperagakan peran sebagai siswa guru dengan menjelaskan hasil kesimpulan, menyampaikan pertanyaan untuk dibahas bersama, dan menyampaikan hasil prediksi dari masalah atau materi yang sedang dibahas.
d.      Pertemuan selanjutnya yang menjadi siswa guru adalah salah seorang siswa dalam kelas tersebut yang dipilih secara acak, sehingga seluruh siswa dalam kelas tersebut harus siap.
3)      Tahap Ketiga
Sebagaimana pertemuan sebelumnya, guru membagikan LKS dan siswa mengerjakan secara diskusi kelompok. Dipilih seorang siswa untuk menjadi siswa guru yang berperan aktif bersama teman-temannya membahas LKS. Dalam hal ini guru sebagai pengarah jika proses pembelajaran terhambat jalannya.

D.   Hasil-Hasil Penelitian Yang Relevan
    Untuk mendukung penelitian ini, berikut ini disajikan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian tersebut antara lain :
  1. Penelitian yang dilakukan oleh Hendriana dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Pengajuan Masalah dan Pemecahan Masalah Matematika Dengan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)”. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun pelajaran 2002/2003. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran terbalik lebih baik dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa dan siswa bersikap positif terhadap pembelajaran yang dilakukan.
  2. Penelitian yang dilakukan oleh Astuti yang berjudul “Penerapan Strategi Belajar Kooperatif Tipe STAD Pada Pembelajaran Matematika Kelas II di MAN Magelang.” Penelitian tersebut dilakukan pada tahun pelajaran 2004/2005. Hasil penelitiannmya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kemampuan komunikasi matematik dengan hasil belajar siswa, dimana kontribusi kemampuan komunikasi matematik siswa terhadap hasil belajar siswa sebesar 76%.

E.   Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan
Dalam proses pembelajaran, ketika siswa belajar untuk menemukan, memahami, dan mengembangkan konsep yang sedang dipelajarinya melalui kegiatan membaca, menulis, presentasi dan berdiskusi, sesungguhnya siswa sedang menggunakan kemampuan komunikasi matematiknya.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) menekankan siswa untuk menerapkan empat strategi yaitu (1) Merangkum atau menyimpulkan, (2) Menyusun pertanyaan dan jawaban, (3) Menjelaskan kembali pengetahuan yang diperolehnya, dan (4) Memprediksi. Dengan menerapkan pembelajaran terbalik dalam pembelajaran matematika, siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada guru dalam membangun pengetahuannya dan pengertian terhadap materi yang sedang dipelajarinya.
Pembelajaran terbalik juga memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada siswa untuk menggunakan kemampuan komunikasi matematiknya secara mandiri, karena siswa dibiasakan untuk mampu membuat kesimpulan dari suatu konsep dan menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya kepada teman-temannya. Kemampuan komunikasi matematik siswa juga akan tampak ketika siswa berusaha menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk diajukan kepada siswa yang lainnya dan membahasnya bersama, serta membuat prediksi permasalahan-permasalahan baru dari konsep yang telah dipelajarinya. Semakin pandai siswa menggunakan strategi tersebut, kemampuan komunikasi matematik siswa pun dapat ditingkatkan.

F.    Hipotesis Tindakan                          
      Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dipaparkan di atas maka diduga penerapan model pembelajaran terbalik (Reciprocal Teaching) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa.




[1] P.Faturrahman dan M.S Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Rafika Aditama,2007),h.5
[2] Muhibbin Syah, Psiklogi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2004), h.90
[3] Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta:Bumi Aksara,2005),h. 38
[4] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h.22
      [5] Paulina Panen, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), Cet. 3, h.1.5
      [6] Ismail, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2002), h.1.13
[7] Suherman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA,2001),h. 18
[8] Muhibbin Syah, Psiklogi Pendidikan dengan Pendekatan Baru...,h.238
[9] Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer…,h. 9
[10] S.E Wuryani, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2006),h.281
[11] Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h.252
[12] Ismail, Kapita Selekta…h. 1.13
[13] Roudhonah. Ilmu Komunikasi. (Jakarta: UIN Jakarta Press,2007), Cet.I, h.19-21
[14] Igak Wardani, Dasar-Dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar Mengajar, (Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka, 2001), h.4-5 
        [15] Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005), h. 190
[16] Bambang Aryan, Komunikasi Dalam Matematika, Tersedia [Online]:http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/30/Komunikasi Dalam Matematika/-37k- [08 Februari 2009, 10:46 WIB].
       [17] Sri Anitah, Strategi Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 7.31
[18] Bambang Aryan, Komunikasi Dalam Matematika... [09 Maret 2009, 10:30 WIB].
        [19] Gusni Satriawati, Algoritma: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, (Jakarta: Center for Mathematics education Development/ceMED, 2006), Vol.I.No.1 ISSN:1907-7882. h.109.
[20] NCTM, Curriculum and Evaluation Standard for School Mathematics, (United States of America:The National Council of Teacher of Mathematics Inc.2000ited States of America:_______________________________________________________________________________________________________), h. 271 
       [21] Tengku, Zawawi, Isu-Isu Dalam Pendidikan Matematika, (Malaysia:Utusan Publications 2005).Tersedia [online]:http://books.google.co.id/books?id=sUx8mYRun4sC&dq=editions:ISBN9676117838&hl=en. h.48,[07 April 2009, 11:00 WIB].
        [22] Abdul Muin, Pendekatan Metakognitif Untuk Meningkatkan Kemampuan Matematika Siswa SMA, (Tesis: Bandung, Tidak diterbitkan, 2005), h.13.
[23] Gusni Satriawati, Algoritma: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika...h.110-111.
[24] Gusni Satriawati, Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika...h.111.
[25] Gusni Satriawati, Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika...h.111.
        [26] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru...,h.34.
        [27] Abdul, Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 16
        [28] Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi pembelajaran, (Jakarta, PT. Bumi Aksara, 2006), h.134.
        [29] Mohamad Nur, Strategi-Strategi Belajar, (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2000), h.5.
[30] Muslimin. Ibrahim, Reciprocal Teaching Sebagai Strategi, Tersedia [Online]:: http:kpicenter.org,indeks.php%option.com_content&task_view&id_36&itemid, [09 Maret 2009, 10:30 WIB].
 [31] Muslimin Ibrahim, Reciprocal Teaching …,[09 Maret 2009, 10:30 WIB].
[32] Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), h.96.
[33] John W. Santroek, Adolescence Perkembangan Remaja, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 140.
        [34] Mohamad Nur, Strategi-Strategi Belajar...,h.48.
        [35] Palincsar, Reciprocal Pengajaran, Tersedia [Online]: http://teams www.ncrel.org/sdrs/areas/issues/students/atrisk/at6lk38.htm - 8k -.[02 Maret 2009, 14:00 WIB].
 [36] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar…, h.37
        [37] Suherman, Strategi Mengajar Kontemporer….,h.73
        [38] Trianto, Model-Model Pembelajaran...,h.96
[39] Palincsar, Reciprocal Pengajaran...,[02 Maret 2009,14:00 WIB].
          [40] Mohamad Nur, Strategi-Strategi Belajar...,h.49.
    [41] W.S Wingkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Grasindo, 1999), h. 291.
          [42] Trianto, Model-Model Pembelajaran...,h.97.
          [43] Palincsar, Reciprocal Pengajaran...[02 Maret 2009,14:00 WIB].